Sulistio Adi's Personal Page

Berbagi dalam bermatematika, berbudaya dan belajar

Batu Tergenggam


Manusia secara fitrah terikat dengan siksaan kekafiran. Atribut-atribut di dunia seperti diri, ego, kecerdasan, kesadaran, harta, semua kepemillikan pada hati yang terdalam adalah sebuah siksaan. Azab ini ditampakkan apabila ia terlepas dari diri. Kita bekerja, memiliki harta. Sebuah telepon genggam memiliki nilai ekonomi bagi kita. Bila Ia Tuhan yang Kuasa menghendaki telepon ini lepas dari genggaman kita, maka ia akan menggoreskan sedikit luka. Bayangkan bila semua harta, waktu, kesempatan, kesadaran, diri, ego bahkan nyawa dan ruh semua lepas, maka apa yang akan digoreskan? Seperti apa rasa sakitnya? Padahal jelas hanya Dia Dia dan Dia yang Azali.


Manusia akan mencari jalan, jalan untuk menuju alam Salam, alam Damai, alam yang lepas segala siksaan ini. Di sini manusia ada dalam lautan syahadah pertama. Kemudian syahadah kedua adalah munculnya kesadaran akan RahmatNya yang agung. Saat syahadah pertama mengisi relung jiwa, maka luar biasa kosong dan hening adalah bahasa hati. Kemudian Nur Muhammad menjadi syahadah kedua. Inilah yang anda lihat, betapa Terpuji Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia menyelamatkan manusia dari siksaan kekafiran terhadap anugrah penyerahan, melalui nabiNya ia ajari manusia betapa terpujiNya Ia dengan segala kesempurnaan dan keagunganNya.


Namun, pernahkah kalian bertanya, kenapa Ia menyerahkan sebuah batu pada manusia. Batu yang dahulu digunakan oleh manusia untuk memenggal persembahan. Kini ia mewujud dalam ajaran Agama, lebih mengerucut lagi pada Mazhab. Perjalanan menuju alam salam ditunjukkan oleh Kekasih
Nya Muhammad SAW melalui syariat islam. Namun, sesuai dengan Hadist, "Kerjakan yang Allah perintahkan padamu, tinggalkan apa yang Ia larang, dan jangan mendebat apa-apa yang ada diantara keduanya, karena itulah RahmatNya", ada hal-hal yang spesifik diperintah, dan spesifik dilarang oleh Tuhan Yang Terpuji. Dan ada hal-hal yang diantaranya. 


Dalam perkembangan syariat Islam, dikenal istilah bernama mahzab. Ia adalah formulasi dalil sehingga menghubungkan generasi yang jauh dengan generasi yang salaf dimana amalan-amalan generasi salaf dicontoh oleh Nabi sendiri atau dibiarkan/dibenarkan oleh Nabi. Pada perkembangan penelisikan kabar-kabar ini menimbulkan perbedaan-perbedaan di hilir produk formulasi dalil. Pada awalnya ini adalah kendaraan menuju alam damai, tapi keasyikan memperhatikan jalan ini pada akhirnya meluputkan sebagian manusia dari tujuan kemana sebetulnya jalan yang sedang ia perhatikan. Ia sering menjadi lantaran terpecah belahnya ummat. ummat yang ada dijalan A akan menyalahkan yang ada di jalan B padahal keduanya memiliki tujuan yang sama.


Sejatinya, manusia dalam bermazhab, atau lebih luas lagi dalam beragama, haruslah BERTUHAN. Sesempurna apapun keyakinan seseorang pada agamanya, pada mazhabnya, harusnya tidak mungkin menghapus realitas bahwa Yang Haqqul Haqq adalah Allah SWT, dan sungguh dhoif manusia itu. Bila dengan mazhab, atau agama, itu kita menggeser Kebenaran MilikNya menjadi kebenaran milik ana, maka apa ini? menyalahkan yang lain, merendahkan yang lain? maka beragamanya, atau bermazhabnya, atau bermanhajnya mereka menjadi aneh karena tujuannya, yakni BerTuhan menjadi hilang sama sekali. Minimal menjadi menuhankan diri sendiri, semoga tidak demikian.


Maka tentunya kita sadar, ini bagaikan sebuah batu.. Sebuah batu, yang akan kita gunakan untuk menyembelih manusia lain, untuk melempari orang lain, untuk melukai orang lain, atau sebuah batu yang akan meninggikan derajat kita. Tentunya tingginya derajat anda adalah tanda keterpujian anda, dan anda menjadi sabda Rosul bahwa Ia diturunkan untuk MENYEMPURNAKAN AKHLAK. Dan tentu bahwa seseorang dengan akhlak yang sempurna adalah seseorang yang berhak mendapat pujian Sebagai HambaNya yang Terpuji dan mengajarkan manusia bagaimana mengucapkan Alhamdulillah..


Batu sudah dalam genggaman kita, akan kita apakan?