Sulistio Adi's Personal Page

Berbagi dalam bermatematika, berbudaya dan belajar

Islam NUsantara 2015


Tahun 2015 Romadhon, sejak era Presiden Jokowi, muncul istilah Islam Nusantara yang dikumandangkan oleh tokoh-tokoh NU dan ulama moderat. Tidak ada hal yang baru sebenarnya mengenai wacana ini bila kita banyak bergaul dengan budayawan maupun agamawan Nusantara. Namun menjadi heboh manakala ini memang bertentangan dengan tokoh Islam yang menitikberatkan pada doktrin-doktrin fikih dan pendalilannya.


Apa yang salah bila memang nusantara memiliki corak Islam yang berbeda dengan "arab". Sebenarnya "arab" disini bukan berarti jazirah arab secara keseluruhan. Corak berbeda ini memang kemunculannya tidak lepas dari sejarah. Yang membedakan adalah "arab" masa kini dan nusantara, dimana disana, tidak muncul berita yang heboh kecuali pemberontakan, sunni memberontak ke syiah, syiah memberontak ke sunni. Hal ini sangat berbeda dengan perkembangan Islam di nusantara yang sejak zaman dahulu dialektika perbedaan-perbedaan sekterian Islam di nusantara selalu mencapai titik temu dan terhindar dari kerusakan-kerusakan.


Islam puritan yang muncul di jazirah arab tidak murni dialektik fikih. Bahkan merambah dimensi politik yang turut melemahkan kesultanan ottoman. Ada kritikus Islam Nusantara yang menyerang bahwa penyokong Islam Nusantara lupa sejarah dan lupa siapa yang diikuti, namun ini berbalik bahwa seolah-olah Islam Nusantara mengingatkan orang-orang arab yang bertikai untuk kembali ke Islam yang damai, Islam yang bisa anda lihat coraknya di sini, di nusantara.


Apa yang Islam puritan lakukan dengan peta politik bangsa-bangsa arab sedang diingatkan oleh orang-orang Nusantara bahwa ajaran damai yang sampai pada kami itu dulu datang darimu, sekarang kau kemanakan?