Sulistio Adi's Personal Page

Berbagi dalam bermatematika, berbudaya dan belajar

Membaca alQuran dengan Tartil


Membaca alQuran dengan tartil adalah sebuah ayat di dalam alQuran itu sendiri. Banyak ulama dan riwayat yang menyatakan bahwa membaca dengan tartil berkaitan dengan pelafalan. Dan itu tentu saja benar. Namun nilai kebaikan dan keindahan didalam pengertian ini kurang terpenuhi karena Islam haruslah merangkul kebenaran, kebaikan dan keindahan.


Terkait dengan itu, nilai kebaikan dalam tartil ada di dalam kata "baca". Ambilah contoh anda di suatu pagi ditemani secangkir kopi, mungkin sambil menghisap rokok, mungkin ada sepiring gorengan dan seterusnya, kemudian istri anda menyerahkan sebuah koran pada anda. Ia meminta anda headline koran tersebut. Setelah selesai anda bacakan, maka ia bertanya pada anda, informasi apa yang anda sudah peroleh? Tentu anda dapat menjawabnya bukan? Coba anda terapkan ini pada orang yang sedang membaca alQuran. Kalau si pembaca mampu menjawab pertanyaan itu maka nilai kebaikan menjadi terpenuhi. Dalam pengertian tartil tentu ketelitian jawaban menjadi penting juga.


Untuk nilai keindahan maka kita kembali kepada Yang Maha Indah dan menyukai keindahan. Ia, Allah SWT, adalah segala keindahan. Maka dalam hal tartil adalah mendudukan Kalam Allah SWT pada tempatnya. Bila anda mendengar Tuhan berbicara, maka tidak mungkin anda mengatakan apa yang dibicarakannya adalah ini dan itu. Kenapa? ambil contoh, di suatu forum anak-anak SMP yang baru saja menyelesaikan pembelajaran Aljabar, kemudian anda berikan sebuah soal atau materi Kalkulus atau Operasi Biner. Maka tidak semua orang akan langsung dapat memahaminya, bahkan hal yang sama dapat terjadi pada orang dengan intelektual yang lebih matang. Mengenai hal ini maka dalam suatu hadist Qudsi dijelaskan bahwa akal adalah ciptaan Allah yang paling Dia cintai, dan akal disempurnakan pada orang-orang yang Ia cintai. Maka nilai keindahan dalam tartil alQuran adalah tidak terburu-buru dalam menyimpulkan pengertian atau tafsir ayat yang sedang dibacakan. Tidak terburu-buru artinya tetap menyandarkan kalam yang memiliki sisi dhohir dan bathin yang hanya Dia Yang Mengetahui. Akibatnya, perbedaan penafsiran tidak saling menghilangkan (kanselasi) tapi saling memperkaya dan saling mengenal. 


Maka bacalah ia dengan tartil..