Sulistio Adi's Personal Page

Berbagi dalam bermatematika, berbudaya dan belajar

Saya melihat UKG, lalu Pendidikan

Zaman memasuki masa global, masa dimana semua dapat terlihat dari satu pandangan penuh. Imbas globalisasi merambah dunia pendidikan, dunia pendidikan yang pada mulanya berjalan menghiasi zaman, kini seolah menjadi objek yang perlu disentuh. Sentuhan pada dunia pendidikan tentulah ingin meningkatkan hasil akhir, yakni dunia pendidikan yang mampu melahirkah insan-insan kamil, orang-orang yang akan menjadi warna bagi dunia.

Pendidikan di Indonesia memasuki fase percepatan, berbagai instrumen dikembangkan demi melancarkan tujuan mulianya. Pada akhir-akhir ini, guru menjadi aspek penting bahkan ujung tombak dunia pendidikan. Berbagai kebijakan bila dilihat sangat berfokus pada guru.

Salah satu sistem yang sedang diandalkan oleh pemerintah adalah sistem UKG. Sistem UKG mampu menggambarkan kondisi guru dilihat dari kemampuan dasar tentang dunia pendidikan kontemporer. Dengan adanya UKG, maka muncul satu nilai yang menggambarkan kondisi guru. Guru dibedakan menjadi beberapa kelompok, kelompok dengan nilai UKG memenuhi harapan, kelompok dengan nilai UKG sangat memuaskan, dan kelompok yang dipandang perlu meningkatkan kualitasnya.

Tindak lanjut dari UKG adalah PKB, diharapkan aplikasi PKB akan meningkatkan nilai UKG, dengan harapan mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara umum. (di sisi lain ada sertifikasi guru yang sangat membantu guru dari sisi profesionalisme dan ekonomi). Tapi sampai saat ini, saya sendiri kesulitan mencari grafik hasil UKG yang sesungguhnya. Dengan melihat grafik hasil UKG, maka setidaknya kita bisa bercermin bahwa kondisi ujung tombak kita sudah runcing atau tumpul. Apabila UKG adalah sisi kognitif guru, maka psikomotor dan afeksi adalah sisi lain yang perlu dikembangkan setelah sisi kognisi mencapai keadaan jenuh di posisi sangat memuaskan (yang tentunya bukan hal yang mudah).

Apabila kita masih terus ingin menggunakan ujung tombak ini, maka sebaiknya apa yang akan kita lakukan? Melihat dinamika perkembangan kurikulum di Indonesia, saya melihat adanya sedikit distorsi. Pernah suatu ketika dalam pengimbasan, kurikulum 2013, Instruktur sedikit curhat bahwa guru sebagai ujung tombak dalam kurikulum ini sejak 2016 ternyata dinilai ada di bawah standar dengan belum mampunya mengembangkan skenario pembelajaran kontemporer, sehingga terkesan kelahiran kurikulum 2013 adalah tindaklanjut hal tersebut.

Dinamika kurikulum berikutnya adalah terbitnya perpres tentang guru pada medio 2017, Secara kuat terlihat bahwa guru masih layak dipandang sebagai ujung tombak pendidikan. Berbagai percepatan di dunia profesi guru sangat terasa di akhir 2017 sampai sekarang, perekrutan guru melalui pendidikan profesi dilakukan secara masif dan terus berkembang. Ujung akhirnya, semoga sebelum muncul gelombang guru-guru baru tanpa sertifikat, pemerintah mampu mendului dengan menelurkan guru-guru baru tersertifikat.

Apabila ini tercapai, maka sisi psikomotor dan afeksi menjadi pekerjaan fokus selanjutnya. Walaupun secara tersirat sisi ini sudah mulai di garap dengan memasukkan Tes Kepribadian dalam Ujian Profesi.

Salah satu sudut pandang yang menurut saya belum banyak digunakan oleh dunia pendidikan adalah input setiap orang yang aktif dalam dunia pendidikan. Mari kita selidiki dari masa lalu kita saat ada di sekolah. Apabila tes kemampuan dasar diterapkan pada kita dulu, maka kita tentu dapat melihat grafik kemampuan kognitif kita dan teman-teman kita di sekolah. Kita yang jadi guru, ada di sebelah mana pada grafik itu, apakah kita yang terbaik? atau ada kelompok yang lebih baik lagi untuk profesi lain, seperti Perpajakan, Perbankan, Kesehatan, Ristek, Pertahanan, atau di bidang-bidang lain.

Dari aspek strategis kita pasti diatas yang lain (lihat pagu anggaran di APBN), atau setidaknya setara dengan kesehatan. Tapi dari aspek SDM, kita ada dimana? Anda pintar? Anak Anda Pintar? Mari jadi GURU.

Akhir kata, semoga pendidikan terus maju, karena Tuhan Maha Memelihara, Tuhan Maha Meliputi, Tuhan Maha Adil, setelah Nikmat Tuhan yang mana yang kita ingkari, Dia adalah Tuhan Yang Maha Terpuji dan berhak atas Pujian di atas segala Pujian.